Masuk ke dalam peron dulu sambil mencari tempat makan yang biasa dibeli bersama saudaraku. Sebuah restoran makanan cepat saji, memang maslah rasa nomer dua tapi daripada mau mencoba gambling atau untung-untungan di tempat lain yang mungkin rasanya tidak jelas. Sambil menunggu antrian duduk melantai di pinggir restoran cepat saji itu sambil mengirim beberapa sms ke teman dan sebuah sms ke seseorang yang memiliki ruang paling besar di hati setelah Gusti Allah dan Kanjeng Nabi. Setelah mengirim sms, ternyata kulihat jumlah pulsa yang tersisa tinggal 23 rupiah. Wah harus menunggu offpeak untuk mengirim sms lagi ke dia.
Akhirnya kami bersepakat untuk membeli makanan di restoran tersebut. Kemudian mengisi perut lapar dengan membeli ayam krispy dan nasi 2 dengan santai duduk melantai. Belum beberapa lama berselang, masih beberapa suapan masuk di mulut Frida baru teringat kalo dia lupa kalo pulsanya belum dimasukkan. Sedangkan voucer isi ulang itu sudah disobek-sobek. Segara kami mencari sobekan kartu voucer yang berada di tempat itu. Bebarapa diantaranya ada di bawah orang-orang yang duduk ditempat itu. Akhirnya semua sobekan berhasil dikumpulkan dan voucer tersebut berhasil diselamatkan.
Setelah makan, sekitar pukul stengah 9 aku dan Frida berjalan ke arah mushola yang ada di dalam terminal terebut. Sekitar jam sembilan kurang seperempat kami akhirnya ke arah tempat pemberangkatan bus. Terlihat perbedaan yang cukup mencolok antara jumlah penumpang dan jumlah bus. Jumlah bis yang datang sangat sedikit, sedangkan penumpang begitu mebeludak. Saat itu Frida cukup senang walaupun masih terlihat capek, karena pacarnya menelpon dia dan memberikan semangat. Dalam percakapan itu dia sempat menititpkan Frida kepada orang yang berada disampingnya, yaitu aku.
Karena keadaan di tempat pemberangkatan tidak memungkinakan untuk naik bus, dan setiap bus yang datang pasti sudah terisi penuh oleh penumpang. Maka aku memutuskan untuk berjalan ke arah tempat parkir bus yang berada tidak jauh diari tempat pemberangkatan tersebut. Untuk bus jurusan Malang-Jogjakarta-Solo banyak yang sudah akan berangkat. Sedangkan bus jurusan ke Malang belum terlihat. Kami berjalan menyusuri parkir untuk mencari bus yang ke arah Malang tersebut. Setelah beberapa lama mencari ada sebuah bus yang baru masuk ke dalam terminal, bus Pangeran jurusan ke Malang. Anehnya bus tersebut sama sekali tidak mau untuk mengangkut penumpang, temasuk kami. Bus tersebut langsung menuju ke arah parkir. beberapa calon penumpang sempat mendekati sang sopir untuk bertanya, dari mereka aku menanyakan kenapa bus tidak berangkat. Sang sopir mengatakan bahwa keadan diluar masih macet dan situasi di porong masih macet juga. Selang beberapa lama kami menunggu bus lain yang datang ke parkir tersebut. Akhirnya sekitar pukul 9 malam dapat naik bus Pangeran ke arah Malang tadi, dengan sedikit berebut Frida masuk kuminta masuk duluan dan mencari kursi. Kami mendapat tempat agak belakang di sebalah kanan. Sedikit rasa lega karena sudah mendapat tumpangan untuk pulang ke rumah. Tidak perduli mau sampaijam berapa bisa sampai rumah.
Diatas bus yang melaju aku pun menyandarkan diri di bus. Sambil berbincang-bincang santai melepas sedikit ketengangan yang baru saja terjadi. Banyak hal yang kami bicarakan, sampai-sampai tidak jelas lagi kemana arah pembicaraan kami. Mulai dari hal-hal percintaan dan romantisme sampai masalah petualangan dengan alam. Pada kesempatan itu lebih banyak kami membicarakan pasangan masing-masing. Ada beberapa hal yang cukup menarik yang kami bicarakan, diantaranya mengenai hubungan antara cinta dan ikhlas. Dimana ikhlas adalah perbuatan tanpa mengharapkan imbalan apapun sedangkan cinta membutuhkan balasan yang sama dari yang dicintai, bisa jadi cinta itu mengharapkan imbalan. Juga sedikit membahas mengenai benar dan salah dalam hal cinta, mengenai kebenaran yang relatif karena sangat mungkin untuk tidak ada yang salah. Akhirnya, kutumpahkan juga sedikit penasaranku kepada seseorang. Sambil menunggu waktu menunjukkan pukul 22 untuk dapat mengirimkan beberapa kerinduan kepada pujaan hati. Walaupun tidak banyak berharap untuk dibalas, karena dia baru saja sakit. Betapa senangnya aku, ternyata dia membalas pesan singkatku. Beberapa kali aku dan dirinya berbalas sms. Sambil kutanyakan keadaannya, kujelaskan bahwa aku baru saja terjebak di Surabaya dan sekarang sedang pulang ke Malang. Andai saja dia tahu apa yang sedang bergejolak dalam hati ini, dan betapa aku merindukan dirinya. Di lain sisi Frida sibuk berusaha menghubungi pacarnya, dia kesal karena sang pujaan hatinya tidak mengangkat telepon. Frida pun memintaku dengan sedikit memaksa, agar mau untuk menelepon rumah pacarnya itu. Ternyata pada saat kutelepon ke rumah, adik perempuannya memberitahukan bahwa sang kakak sudah tidur. tentu saja Frida bertambah kesal dan sedikit ngambek gara-gara dicuekin sang pacar. Sambil bercanda aku berusaha menggoda agar hatinya terhibur. Pembicaran kami pun semakin berkurang seiring dengan larutnya malam.
Malam itu bus melaju dengan lancar. Cukup melegakan sekaligus mengherankan, mengingat kemacetan yang luar biasa tadi seolah-olah lenyap begitu saja. Di daerah porong pun, terjadi kemacetan tapi tidak begitu parah dan mudah dilewati. Walaupun sempat was-was juga karena bus bergoncang cukup keras pada waktu melewati pingiran jalan yang sangat berlubang. pak sopir sengaja mengambil pinggir jalan yang berlubang dan berkubang lumpur agar lebih cepat. Perjalanan selanjutnya berjalan lancar dan tidak menemui kencala. Sampai setelah daerah pasar lawang Frida menghubungi ayahnya agar dijemput di dekat perhentian bus di daerah dekat pasar Singosari. Akhirnya di Singosari Frida turun dan mungkin langsung pulang ke rumah dengan sepeda motor bersama ayahnya. Terdengar berita bahwa keesokan harinya sang pacar datang ke rumahnya.
Sekarang tinggal aku sendirian sambil memandang keluar kaca jendela bus. Kondisi dalam kendaraan itu cukup hening karena para penumpang banayak yang beristirahat, dari tadi kuperhatikan memang kami yang paling banyak berbicara. Sebentar kulihat ke belakang kedua cewek berjilbab yang duduk di kursi belakang. Mereka terlihat tertidur, kalau mengingat kejadian sebelum bis berangkat sempat tersenyum juga. Salah satu dari cewek berlilbab tadi sempat mengantamkan tasnya ke pelipis kepalaku saking paniknya. Dan meminta orang disana untuk menjaga tempat duduknya, karena mau memanggil temannya yang masih di luar. Menunggu sebentar untuk sampai di terminal Arjosari. Sambil kuangkat kedua kaki aku mengamati ke luar suasana kota yang lengang dan sepi.
Tidak berapa lama kemudian bus sampai di terminal. Aku langsung turun lewat pintu depan bis sebelah kiri, waktu itu klihat para calon penumpang yang berlari untuk naik bus yang aku tumpangi tadi. Ternyata di Arjosari juga terjadi penumpukan penumpang di malam Idul Adha ini. Aku pun segera keluar lewat jalan sebelah toilet seperti biasanya. Setelah mengambil sepeda motor dan membayar parkir, dengan santai aku memacu motorku untuk pulang ke rumah. Pada waktu di jalan, karena perut terasa lapar kuputuskan untuk membeli tahu campur di daerah Dinoyo. Namun ternyata tahu campur yang biasanya dibeli bersama teman-teman sudah tutup. Karena saking ingin dan lapar, akhirnya kutemukan sebuah warung tahu campur di daerah pasar Dinoyo. Setelah makan dengan lahap walaupun cita rasa yang disajikan tidak begitu sesuai dengan
selera, aku bergegas pulang ke rumah dengan cepat. Alhamdulillah, akhirnya sekitar pukul 12 malam sampai dirumah dengan selamat.
(end of case…)